Open top menu
Saturday, October 7, 2017

Seringkali pada saat bermasalah banyak diantara kita yang terprovokasi oleh masalah tersebut sehingga yang diperbesar justru adalah masalahnya bukan hakikat dari masalah itu sendiri. Hakikat masalah pada ujungnya menjadikan manusia hebat dan kuat bukan sebaliknya, dalam sistem yang kita miliki justru
Allah menyiapkan kita dengan sebuah hukum tekanan, dikatakan bahwa tekanan yang datang kepada kita bukan menjatukan namun justru mengangkat kita menjadi yang terbaik bahkan tidak bisa kita membayangkanya. Saya ingin mencontohkan adalah kehidupan yang dialami oleh saya sendiri. Selama 4 tahun saya adalah marbot Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, setiap hari setelah pulang kuliah saya harus menunggu sepatu yang menitipkan ke saya sampai jam 21.00 malam, terasa hening ketika setelah sholat isya, ketika jamaah sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing, saya sendiri menunggu dan menutup pintu-pintu masjid, waktu itu tidak terbayang akan hidup seperti hari ini, ketika jarang ada yang menitipkan sepatu bahkan untuk makan saja pun tidak ada pegangan sama sekali.
            Jika saya melihatnya masalah tentu saja ini adalah masalah, hanya saja dari sudut pandang saya berpikir bukan tentang masalah namun hakikat dari masalah. Pada hakikatnya apa yang sedang terjadi dengan saya adalah latihan jiwa agar kuat dan tentu saja hebat. Persoalanya adalah untuk menggali hakikat masalah kita harus masuk ke dalam  diri dengan keterbukaan dan kesabaran. Saya teringat ketika suara adzan dzhuhur berkumandang di kampus, saya segera menuju ke masjid, bukan menjadi imam namun menjaga sepatu teman-teman kuliah termasuk adalah teman kuliah saya. Beberapa teman ada yang bercanda sambal menyindir ‘ente ga malu Nang, kuliah sambal jaga sepatu kita-kita” Saya hanya tersenyum  seperti biasa lalu menjawab “alhamdulillah sudah biasa bro”, bahkan kadang ada teman bercanda “saya minta sepatudi semir yah, biar kinclong” katanya. Kalimat-kalimat itu bukan melelahkan saya namun justru menguatkan saya. Pertanyaanya adalah kenapa bisa?, karena saya melihat bukan hanya masalah namun hakikat dari masalah itu sendiri, ada sebuah aforisme dalam buku The7Awareness dikatakan bahwa “setiap pasien membutuhkan pil pahit”.
              Siapa sih pasiennya itu ?, yah kita semua, setiap orang yang mudah sakit hati, mudah kecewa, mudah marah, mudah putus asa, mudah negatif kepada orang lain, mudah dendam, mudah terbakar emosi adalah pasien kehidupan yang membutuhkan pil pahit. Pertanyaanya sederhana?, adakah pil pahit yang tidak pahit?, jadi setiap peristiwa buruk yang terjadi dimasa lalu kita adalah pil pahit bagi kita semua yang kelak akan membagunkan kesadaran kita. Cobalah bertafakkur sejenak, bukankah keadaan kita saat ini, kesusesan dan kebahagiaan justru lebih sering karena pil pahit kita dimasa lalu.

--------------------------------------------------------------------
Ingin mengundang Naqoy Hub (021) 75872807, 081905666479, 081287475463 Email the7awareness@yahoo.com www.the7awareness.com


Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments